About Me

My Photo
To' Pao, South Sulawesi, Indonesia
I am Ismail Banne Ringgi', a Torajanese. I like Torajan delicacy such as pa'piong duku' bai, pork which cooked in a bamboo tube.

Wednesday, August 25, 2010

TEOLOGI PENGHARAPAN

PENDAHULUAN
Salah satu teologi kontemporer yang muncul di awal tahun 1960an adalah teologi pengharapan. Teologi ini merupakan refleksi kondisi zaman yang tidak menentu pada saat itu. Beberapa hal yang sangat berpengaruh pada zaman itu adalah, pertama, munculnya pandangan-pandangan teologis yang sudah dianggap oleh para teolog pengharapan sebagai teologi yang jauh dari Alkitab. Kedua, munculnya gelombang demonstrasi dan perdebatan antara orang Kristen dengan pendukung Marxisme. Ketiga, terjadinya masa suram dalam politik dan ekonomi di hampir semua negara. Dalam kondisi seperti ini Jurgen Moltmann dan kawan-kawan mencoba memberikan jawaban teologis.

Beberapa teolog yang mendukung teologi pengaharapan ini antara lain, Jurgen Moltmann, Wolfgang Pannenberg, John Metz, Carl Braaten.

TEOLOGI PENGHARAPAN

Teologi pengaharapan muncul tahun 1960-an ketika ‘Kristen ateis’ tampil ke depan. Pada saat itu pemahaman teologi ‘Allah Mati’ yang dikemukakan oleh Friedrich Nietzsche juga sangat gencar. Teologi pengharapan bersumber dari pemahaman eskatologi Albert Schweitzer pada permulaan abad ke-20 yang banyak mengarahkan teologi ke masa depan, bukan masa lampau atau masa sekarang. Teologi ini melihat hubungan iman dan sejarah begitu kuat.

Para teolog teologi pengharapan menolak membagi dua sejarah menjadi sejarah sekuler dan sejarah kudus. Bagi mereka hanya ada satu sejarah yakni sejarah di mana Allah menyatakan diri sejarah tidak langsung di dalamnya. Pengharapan Kristen adalah sebuah antisipasi dari sejarah masa depan yang akan menjadi sebuah pemenuhan dari janji Allah secara langsung di dalam Yesus Kristus. Masa kini sangat berarti kaerna akan berhubungan dengan kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Seperti marxisme, teologi pengharapan berada di luar teologi tradisional, dengan sebisa mungkin berperan dalam semua aspek kehidupan dunia, termasuk bidang politik, sosiologi, dan etik. Pemikiran teologi pengharapan banyak berpengaruh pada pemikiran teolog di dunia ketiga. Tokoh-tokoh dari teologi pengharapan ini adalah Jurgen Moltmann (Reformed), Wolfhart Pennenberg (Lutheran) dan Johannes Metz (Katolik Roma).

Jurgen Moltmann
Jurgen Moltmann lahir di Hamburg, Jerman, pada tahun 1926. Ia adalah seorang professor teologi sistematika dari Universitas Tubingen. Ia mulai ide tentang pengharapan manusia ketika ia ditahan sebagai tahanan perang di Inggris, di mana pengharapan selalu berada di antara hidup atau mati. Pada tahun 1948 ia mulai belajar teologi di Tubingen di sana ia memperoleh gelar doktornya. Setelah selesai belajar teologi, ia menjadi pendeta jemaat. Setelah tamat ia mengajar di Seminari Gereja di Wuppertal kemudian ke Universitas Bonn sebelum ia Tubingen tahun 1967.

Perang Dunia (PD) II telah membawa Eropa porak poranda dan membawa pengalaman yang sangat mengecewakan. Perang dingin juga selama tahun 1950an dan 1960an membawa ancaman bencana nuklir. Para pemuda memberontak terhadap situasi dengan berdemonstrasi di kampus-kampus mereka. Sementara di Jerman sendiri, terjadi perdebatan antara pengikut-pengikut komunis dengan kapitalis, antara pengikut Marxisme dengan orang Kristen. Moltmann sangat dipengaruhi oleh seorang temannya yang Marxisme, Ernst Bloch, dan juga dipengaruhi oleh perdebatan antara Marxist denga orang Kristen di kampus Tubingen. Hasilnya, ia mampu menghasilkan tiga buah buku teologi yang sangat berpengaruh, yaitu Theology of Hope (1965), The Crucified God (1974) dan The Church in the Power of the Holy Spirit (1977). Melalui buku Theology of Hope Moltmann mengemukakan bahwa Allah dalam Alkitab memiliki masa depan sebagai hakekat-Nya yang sebenarnya oleh karena itu Dia yang selalu ada di depan kita dan yang mempertemukan kita dengan janji-janji di masa depan.

Dalam kaitannya dengan pengaharapan, Moltmann mengemukakan bahwa kekristenan adalah pengharapan yang terarah dan bergerak ke depan, yang juga sekaligus menggerakkan dan mengubah masa sekarang. Ini berbeda dengan pemahaman tradisional yang melihat bahwa eskatologi adalah doktrin zaman akhir. Menurut Moltmann penafsiran seperti ini tidak cukup. Pengharapan Kristen terdiri dari dua hal yaitu sesuatu yang diharapkan dan pengharapan yang diinspirasikan dari yang diharapkan itu. Eskatologi Kristen berbicara mengenai Yesus Kristus dan masa depan di dalam Dia.

Ada beberapa pendapat Moltmann: pertama, pengharapan bukanlah sebuah utopia yang tidak dapat digenapi. Dengan mengikuti Calvin, Moltmann mendefenisikan pengharapan sebagai harapan akan hal-hal yang diterima oleh iman sebagai sesuatu yang telah dijanjikan Allah. Jadi dalam iman kita percaya bahwa Allah adalah benar, sementara pengharapan menunggu waktu pemenuhan kebenaran dinyatakan.

Dalam pendapat Moltmann, dosa mewujud dalam ketidakberpengharapan yang terdapat dalam dua hal: anggapan dan keputusasaan. Anggapan terjadi apabila seseorang mencoba untuk mengantisipasi apa yang diharapkan dari Tuhan tanpa janji Tuhan. Sedangkan keputusasaan terjadi apabila seseorang mengatisipasi apa yang tidak dipenuhi dari apa yang dijanjikan.

Kedua, sisi lain yang dilihat Moltmann di sini adalah janji. Baginya, janji adalah pernyataan akan datangnya suatu kenyataan yang belum ada. Janji ini menghubungkan manusia dengan masa depan yang di dalamnya ada sejarah. Dalam masa antara janji dan penggenapannya terdapat kebebasan untuk patuh atau tidak patuh, berharap atau kecewa. Menurutnya, Allah menunjukkan kasih setia-Nya dengan membawa janji-janji-Nya ke masa depan.

Ketiga, menurut Moltmann pentingnya eskatologi dapat dilihat dalam penyaliban dan kebangkitan Kristus. Makna dari kedua hal ini tidak terletak pada masa lampau dan masa sekarang tetapi lebih banyak pada masa depan. Ia mengatakan bahwa melalui janji, masa depan yang masih samar telah diberitakan dan mendesak untuk diberitakan pada masa sekarang melalui pengaharapan. Di sini terdapat dua hal yang saling bertentangan kematian dan kehidupan, Allah yang tidak hadir dan Allah yang dekat, keinginan Allah meninggalkann manusia dan kemuliaan Allah. Sintesa dari kontradiksi ini adalah janji pembaharuan oleh Allah di masa depan. Janji ini belum dipenuhi karena Kristus sudah bangkit tetapi dia adalah jaminan janji tersebut. Kedatangan Kritus bukan hanya merupakan penyataan akan kenyataan tetapi penyataan akan apa yang belum terjadi.

Keempat, gereja berperan dalam misi di mana gereja berpartisipasi dalam menyatukan manusia dengan sesamanya, masyarakat dengan alam, dan ciptaan dengan Tuhan.

Wolfhart Pannenberg
Pannenberg lahir pada tahun 1928 di Szczecin, Polandia. Pada tahun 1955 ia menjadi dosen ilmu teologi di Heidelberg. Kemudian ia menjadi professor teologi sistematis di seminari gereja di Wuppertal pada tahun 1961. Kemudian pindah lagi ke Universitas Munchen tahun 1968. Ia adalah seorang Lutheran Jerman yang belajar teologi di Gottingen, Basel, dan Heidelberg. Titik berangkatnya adalah kerajaan Allah yang dimengerti sebagai eskatologi masa depan yang dibawa oleh Tuhan sendiri. Kerajaan Allah dan keber-ada-an (existence) Allah tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya, keber-ada-an Allah masih berada dalam proses pemenuhannya. Ide bahwa kerajaan Allah berada pada masa depan, namun tidak dapat dikatakan bahwa Allah hanya ada pada masa depan tetapi Ia sudah berada pada masa lampau dan masa sekarang.

Di dalam sejarah Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui peristiwa-peristiwa sejarah. Menurut Pannenberg, Yesus Kristus adalah penyataan Allah yang terakhir. Apa yang terjadi pada kebangkitan Yesus bukanlah sesuatu yang terjadi pada masa sekarang tetapi memberi harapan masa depan bagi kekristenan.

Gereja hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan dunia. Titik utama gereja adalah kerajaan Allah yang yang berhubungan dengan masa depan.

Johannes Baptist Metz
Ia adalah seorang Roma Katholik, professor teologi di Universitas Munster. Mengenai hubungan iman dengan politik adalah iman Kristen mesti dinyatakan melalui praktik dalam sejarah dan masyarakat yang dimengerti sebagai harapan di dalam solidaritas dengan Allah. Tugas gereja di dalam dunia menjadi satu dengan dunia di mana gereja hadir untuk semua orang. Gereja hadir untuk berjuang untuk penderitaan masyarakat.

KAJIAN ALKITAB TERHADAP TEOLOGI PENGHARAPAN
Penyataan
Moltmann melihat penyataan diri Allah di masa depan, tidak pada masa lampau dan kini. Ia adalah Allah masa depan. Pendapat ini bertentangan dengan pandangan Alkitab yang menyatakan bahwa Allah itu kekal, yang berkuasa pada masa lampau, sekarang dan di masa depan (Mzm. 93:2). Tanpa mengakui Allah yang telah bekerja pada masa lampau dan masa sekarang, orang tidak akan dapat meyakini janji yang diberikan untuk masa yang akan datang. Justru dengan melihat karya Allah yang telah dan sedang terjadi maka orang akan yakin bahwa janji Allah akan dipenuhi.

Sementara Pannenberg melihat sejarah sebagai alat penyataan Allah dan menolak penyataan khusus ada sekarang. Teologi pengharapan yang dibangun oleh Pannenberg tidak memiliki dasar yang kuat. Memang betul bahwa Allah berkarya dalam sejarah dan melalui sejarah manusia dapat melihat bahwa ada Allah yang bekerja. Namun demikian karena sejarah sehingga kita tidak dapat melupakan penyataan khusus Allah yaitu Yesus Kristus (1 Kor. 3:11).

Dosa
Teologi pengharapan hanya melihat dosa sebagai ketidakberpengaharapan. Jelas sekali dalam seluruh berita Alkitab bahwa dosa adalah pemberontakan kepada Tuhan. Dosa ini berakibat fatal karena menjauhkan manusia dari Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Akibat dosa dirasakan oleh manusia dan seluruh alam semesta. Kebangkitan Kristus memulihkan hubungan yang tidak beres dengan Tuhan. Ketidakberpengharapan pada janji Tuhan hanyalah salah satu bentuk manifestasi dosa.

Hakikat Allah
Teolog teologi pengharapan mengatakan bahwa Allah menjadi sungguh-sungguh Allah pada saat janji-Nya sudah digenapi. Allah tidak bergantung pada apapun juga untuk membuktikan keallahan-Nya. Apakah janji-Nya digenapi atau tidak, Ia tetaplah Allah. Namun di dalam keseluruhan Alkitab jelas dinyatakan bahwa Allah selalu menggenapi janji-Nya karena kasih setia-Nya (Mzm. 136). Ia telah menyatakan diri-Nya dalam sejarah dan diakui oleh manusia sebelumnya bahwa Ia adalah Allah.

Dalam pandangan teolog pengharapan, Allah menjadi satu bagian dari waktu yang bergerak maju menuju ke masa depan. Allah menyatakan diri sekarang melalui janji-Nya. Ia beserta segala mahkluk ciptaan bersama “terperangkap” dalam kurungan waktu yang telah Ia ciptakan. Allah dan manusia tidak mengenal masa depan. Jika demikian, inti dari pemahaman teolog teologi pengharapan adalah Allah bukanlah Allah yang berkuasa atas ciptaan-Nya tetapi justru dikuasai oleh ciptaan-Nya sendiri. Kalau Ia adalah Allah yang dikuasai oleh waktu maka tentunya Ia tidak dapat memenuhi janji-janji-Nya. Dalam pandangan Alkitab, Allah adalah Pencipta waktu dan Ia berdiri di luar waktu. Pandangan tradisional mengatakan bahwa Kristus adalah Allah yang kekal. Ia tidak berubah, baik kemarin, hari ini, dan selamanya (Ibr. 13:8).

Eskatologi teolog teologi pengaharapan berpusat pada manusia yang mesti memandang ke masa depan, bukan pada Yesus Kristus.

Kebangkitan Kristus
Pandangan teologi pengharapan yang meragukan kebangkitan tubuh Kristus, berimplikasi pada tidak adanya kuasa yang mampu menyelamatkan seluruh umat manusia dari kuasa maut. Padahal kematian dan kebangkitan Kristus ini adalah merupakan jaminan Allah akan adanya kebangkitan yang akan datang. Yaitu suatu fakta sejarah yang memberi makna pada masa depan bagi orang-orang percaya. Kristus yang sudah bangkit itu adalah “buah sulung kebangkitan”.
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. (1 Kor 15:20-23)

Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati (Kis 4:2).

Sementara Pannenberg hanya mengarahkan perhatian pada Yesus di masa depan. Dalam hal kebangkitan Yesus, Pannenberg mengatakan bahwa penampakan diri Yesus merupakan awal berdirinya gereja.

KESIMPULAN
Teologi pengharapan memiliki beberapa pelanggaran prinsip-prinsip penafsiran dan dibangun di atas pra-anggapan naturalisme. Kesalahan tersebut terutama dalam menafsirkan tentang makna kematian dan kebangkitan Kristus, yang juga akan berimplikasi pada konsep tentang dosa.

Pandangan eskatologi teologi pengharapan lebih bersifat utopis (pengaruh Marxisme?). Dengan demikian pengharapan eskatologis teologi pengharapan sama sekali tidak mempunyai dasar untuk berharap. Kristus bukanlah dasar untuk berharap bagi teologi pengharapan dan Allah bagi mereka bukanlah Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini merupakan bentuk ketidakpercayaan kepada Allah. Ketidak percayaan yang mencoba untuk berlindung dibawah kebenaran Kristen, tetapi sekaligus menyangkali kebenaran dari kepercayaan Kristen tersebut. Pengharapan tidak memberi pengaharapan pada orang-orang berharap.

Daftar Pustaka
Conn, Harvie. Teologi Kontemporer. Malang: SAAT, 1988.
Lane, Tony. Runtut Pijar. Jakarta: Gunung Mulia, 1993.
Smith, David L. A Handbook of Contemporary Theology. Michigan: Baker Books, 2003.

No comments: